Jumat, 25 Februari 2011

hmmmm

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki
sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah
seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama
delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah 'saya
pernah datang dan saya sangat penurut'.Anak ini rela melepaskan
pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan
sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese
seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian,
yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang
menghadapi kematian, dan dia rela melepaskan pengobatannya.Begitu
lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia
hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya.

Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She
Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu.
Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan
hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin
tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat
dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan
rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang
kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat
selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12. Melihat anak
kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah,
papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka
kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya
memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "Saya
makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian
papanya memberikan dia nama Yu Yuan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang
membesarkan seorang anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu
membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan
air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi
lemah dan sakit- sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan
sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan
bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para
tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar walaupun dari kecil
sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan.

Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan
tumbuh dewasa. Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar
biasa.

Mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan
pekerjaan rumah, mencuci baju, memasak nasi, dan memotong rumput.

Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan
anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua,
sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya
mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi
seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi
sedih dan marah. Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri
sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di
sekolah.

Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi
bangga di desanya.

Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk
papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya
diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan
mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya. Setiap
kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia.
Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi
bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada
suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa
air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal
dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan
pendarahan tersebut sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas
desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga
mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai
bermunculan bintik- bintik merah. Dokter tersebut menyarankan
papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.
Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena
antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi
yang panjang untuk menutupi hidungnya.

Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir
dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian
mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar
dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil
tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk
diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan
terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal
yang memerlukan biaya sebesar $ 300.000. Papanya mulai cemas
melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya
memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai
cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang
yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil
keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu
satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang
singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli. Melihat mata papanya
yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus, dalam hati Yu Yuan
merasa sedih.

Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun
mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. "Papa, saya
ingin mati". Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan,
"Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati?". "Saya adalah anak
yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga,
tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah
sakit ini."

Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal
huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak
yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang
berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah
pulang ke rumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki
permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia
ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada
papanya, "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya
lihatlah foto ini".

Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota
dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang
dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan
corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dia tidak rela
melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto.

Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin
berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada
akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar.

Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di
surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun
yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin. Setelah mengetahui
keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan
sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita
tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri
dan akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng.

Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang
sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke
seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk
menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara
panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang. Hanya dalam waktu
sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah
mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi.

Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih
semua orang. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan
tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah
tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu
demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua
orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di email
bahkan menulis, "Yu Yuan, anakku yang tercinta. Saya mengharapkan
kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat
kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan
sehat.

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan
menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang
sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan
alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima
pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca
tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk
diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum
padanya.

Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan
proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat.

Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan
tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan
pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari
depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak
berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu Yuan dari lahir
sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang
ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi
anak perermpuannya, air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.
Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu
memanggil dengan sebutan Shii Mama.

Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian
dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik". Semua orang
mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan
hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk
Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email.
Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang
menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan di
pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah
putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang
pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi
sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak
leukemia yang lain fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah
melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah. Pada
tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan,
"Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?". Wartawan
tersebut menjawab, "Karena mereka semua adalah orang yang baik
hati". Yu Yuan kemudian berkata, "Tante, saya juga mau menjadi
orang yang baik hati".

Wartawan itu pun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang
baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin
baik".

Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan
diberikan kepada ke Fu Yuan. "Tante ini adalah surat wasiat saya."

Fu Yuan kaget sekali, membuka dan melihat surat tersebut. Ternyata
Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri.
Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang
menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman
surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan,
tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.
Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih
ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam
belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Dia
juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada
orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat
kabar. "Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong
jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa
dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin
palang merah.

Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada
orang- orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh".

Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang
membasahi pipinya. "Saya pernah datang, saya sangat patuh",
demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu
Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk
bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan
mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan
di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun
secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan
transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat
hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang
ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa
membantunya.

Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya
meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan
ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air
sungguh telah pergi ke dunia lain. Di kecamatan She Chuan, sebuah
email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak
yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga
yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan
pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas
langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah....." demikian
kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan
gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan
menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu
Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan
yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi
orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang
diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan. Di depan kuburannya
terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu
nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh" (30
November 1996 - 22 Agustus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan
singkat riwayat hidup Yu Yuan.

Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima
kehangatan dari dunia. Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana
540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita
leukimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan
itu adalah :

Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian,
Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari
keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang
melawan kematian. Pada tanggal 24 September, anak pertama yang
menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil
melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut
wajah anak tersebut. "Saya telah menerima bantuan dari kehidupan
Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami
diatas sana.

Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya
dengan kata-kata 'Aku pernah datang dan aku sangat patuh'".

Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati. Seorang anak
kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi
kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan
ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan
respon yang luar biasa dari kalangan dunia. Walaupun hidup serba
kekurangan, dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah
contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama,
berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit
kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi
dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang pengasih

Rabu, 23 Februari 2011

Catatan Sedih Tak Berujung

Hancur berkeping hati ini.Seperti kena cekik leher ini.Tak tertelan suatu apapun tenggerokan ini.Ketika seorang wanita berkata kepadaku:
"Assalamu'alaikum...akhirnya rasa penasaranku terhadapmu terjawab sudah.Wajar kalau suamiku begitu mencintaimu.Wajar bertahun-tahun suamiku tak mengakui kami.Lama aku menikah dengannya tak merasakan kata-kata romantis seperti dia menelpon kamu.Aku tak akan menyalahkan kamu,tapi keadaan yang buat dia berubah senang bisa kenal sama kamu."

Dalam detik itu juga ku bayangkan;bagaimana kalau seandainya posisinya itu posisiku?Bagaimana rasa sakitnya?Sanggupkah aku?Lelaki...lelaki....setega itukah dirimu pada wanita yang mencintaimu....teriakku,jeritku dalam hati di iringi dengan derasnya airmata.Panas dingin langsung menyerangku.Menggigil hebat tubuh ini,dalam kesunyianku.Ya Allah...aku masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi...

Tapi kenapa ,kenapa aku memaafkan lelaki itu?Aku tak mampu memurkainya.Aku tak mampu memarahinya.Aku tak mampu membencinya.Hanya karenaMu ya Allah...Hanya karena ku takut murkaMu ya Allah,aku mampu meninggalkannya.Aku mampu melupakan dia pernah menjadi belahan jiwa.Demi sesama wanita,wanita mulia yang berusaha mempertahankan utuhnya jalinan keluarga demi kebahagiaan anak-anaknya.Walau sedihku ini mungkin tak berujung.

cintailah cinta

Memang benar adanya cinta dan setia itu satu paket, dan jangan pernah ngaku cinta kalo tidak setia. Bagaimanapun orang itu yang dipercaya adalah kata-katanya. Lebih baik kita jujur dan mengatakan bahwa kita cinta, diikuti dengan komitmen untuk setia pada orang yang dicintainya.

Tapi kenyataan yang terjadi saat ini, cinta tuh banyak diobral, dan kesetiaan banyak ditelanjangi. Dalam artian, orang suka bermulut manis, menebar pesona, dengan harapan umpannya kena. Nah, begitu kena, gak janji lah berapa lama bertahan. Apalagi jika cintanya diembel-embeli sesuatu, benar-benar bisa dikatakan sudah tidak murni lagi.

Cinta, memang paling enak dinikmati di saat hati berbunga-bunga dan sedang bermekar indah. Makanya susah bertahan lamanya ya…? Soalnya mengibaratkannya bagaikan bunga yang sedang mekar sih… Tahu sendiri kan, berapa lama bunga tuh bertahan mekarnya.

Sedangkan kesetiaan, dia selalu ada diurutan terbelakang. Rata-rata hanya kamuflase belaka. Intinya tidak ada satupun yang bisa jadi jaminan seseorang itu setia luar dalam dengan pasangannya. Bisa jadi selama ini yang kelihatan dia setia di luarnya, tapi di dalamnya mene ketehek.

Ibarat membeli kucing dalam karung, seperti itulah cinta yang menghampiri kita. Kita tidak tahu apapun sebelumnya. Dan tiba2 panah dewi cupid mengenai kita, sakit gak ya? Harusnya kalo kena panah tuh rasanya sakit loh, tapi khusus panah dewi cupid, kok kita gak perlu dokter ya buat ngobatin, karena memang yang ada hanya rasa senang dan bahagia saja. Kecuali kalo panah itu tercabut dari tubuh kita, barulah terasa sakitnya. Aneh juga ya….

Kesetiaan itu ibarat pedang bermata dua. Tajamnya minta ampun. Kita dituntut untuk hati-hati dalam menggunakannya. Janganlah kita berpaling sedetikpun, karena itu bisa melukai ke duanya. Baik diri kita maupun orang lain.

Cinta dan kesetiaan seperti 2 sisi mata uang. Dimanapun dan kapanpun akan selalu satu paket, satu koin, satu kemasan. Tidak ada yang bisa mengutak-utiknya.

Kesetiaan itu Langka tapi Ada

Kurang lebih satu bulan yang lalu saya menyaksikan ulasan sebuah film di Metro TV. Film itu Hachiko: A Dog's Story. Awalnya saya menyaksikannya sambil lalu, tapi kemudian ada satu komentar dari si presenter yang membuat saya duduk dengan tenang di depan televisi hingga ulasan film itu usai. Kurang lebih komentarnya bahwa film ini bukan hanya film tentang seekor anjing dengan tuannya melainkan kisah tentang kesetiaan abadi. Ulasan itu membuat saya terus bertanya-tanya kapan film itu akan diputar di Indonesia, lebih khusus lagi diputar di Surabaya atau Yogyakarta.
Kemudian, saya dapat kabar kalau Hachiko sudah diputar, tapi sayangnya saya tidak menemukan waktu yang pas untuk melihatnya. Baru hari ini itupun setelah meluang-luangkan waktu.
Hachiko: A Dog's Story, dibintangi oleh aktor yang memiliki ketampanan "abadi" (sampai tua gitu tetep aja keren) Richard Gere yang berperan sebagai Prof. Parker Wilson serta Joan Allen sebagai Cate Wilson, istri sang profesor. Kisah berawal ketika Ronnie berkisah tentang pahlawannya. Seekor anjing milik kakeknya.
Seekor anjing dikirim dalam sebuah perjalanan oleh seorang biksu di Jepang. Dalam perjalanannya, Hachiko akhirnya "lepas" di sebuah stasiun di kota Bedridge. Kemudian, si anjing yang tersesat bertemu dengan Parker. Prof. Parker bermaksud untuk menitipkan si anjing pada Carl, petugas stasiun, tapi Carl menolaknya dan menyarankan agar Parker membawa pulang anjing itu. Akhirnya Parker membawa pulang anjing itu. Meskipun di awal istrinya menolak kehadiran anjing itu, namun kemudian ia menerimanya karena melihat Parker dan anaknya Andy begitu bahagia dengan kehadiran anjing itu. Parker membawa si anjing kepada temannya Ken. Ken pun menjelaskan tentang anjing yang berjenis Akita dan ia pun membaca kalung yang melingkari leher anjing itu. Di liontin itu ada huruf kanji yang berarti Hachi atau delapan. Ia menjelaskan bahwa Hachi adalah lambang keberuntungan. Dan anjing jenis Akita adalah anjing yang begitu setia dengan majikannya. Biasanya dimiliki oleh keluarga kerajaan dan menjadi teman untuk berburu. Sejak saat itu, anjing itu dipanggil dengan nama Hachi. Hachi mewarnai kehidupan keluarga Parker dan telah menjadi bagian dari keluarga,
Hachi, adalah anjing yang spesial, ia begitu setia pada Parker. Saat pagi ia mengantarkan Parker ke stasiun kemudian ia pulang dan kembali ke stasiun tepat pukul 5 kurang 5 untuk menjemput Parker. Begitu seterusnya, Hachi selalu melakukan "ritual" yang sama setiap harinya. Apa yang dilakukan Hachi menarik perhatian banyak orang di sekitar stasiun, Jasjeet, si penjual hot dog, Mary Ann penjual buku, Carl petugas stasiun, dan pasangan suami istri penjual daging. Hachi setia menunggu kedatangan Parker di depan pintu stasiun dari hari ke hari. Hingga Parker kemudian meninggal di kampusnya dan tidak pernah keluar dari pintu stasiun untuk pulang. Tapi Hachi terus menunggunya hingga malam, hingga Andy, anak Parker, menjemput Hachi pulang.
Setelah Parker meninggal dunia, Hachi tinggal bersama Andy. Namun, Hachi sepertinya ikut merasakan kehilangan, ia tidak banyak beraktifitas. Hingga suatu hari Hachi kabur dari rumah dan pergi ke stasiun di kota Bedridge. Sejak itu ia terus menunggu "kedatangan" Parker, tuannya, di depan pintu stasiun. Di tempat yang sama setiap harinya. Hingga musim berganti dan Hachi pun menjadi pembicaraan setiap orang di kota itu hingga menarik seorang wartawan untuk meliputnya. Selepas itu kisah tentang Hachi, anjing yang setia menunggu kedatangan tuannya yang sudah meninggal menjadi legenda di kita itu. Hachi telah menjadi bagian dari hidup semua orang di Bedridge. Hachi terus menunggu di stasiun hingga 10 tahun kemudian. Cate yang sedang berziarah di makam Parker, terkejut karena melihat Hachi masih setia menunggu. Hachi terus setia menunggu hingga dia meninggal di depan stasiun itu.
Film ini terinspirasi dari kisah yang sama tentang Hachiko, anjing yang setia pada tuannya Prof. Hidesaburo Ueno, profesor departemen agricultur di Universitas Tokyo, Jepang. Hachi di dunia nyata meninggal di tahun 1935. Hachi menjadi legenda di kota Shibuya, Jepang. Bahkan di depan stasiun Shibuya terdapat monumen Hachiko.
Hachiko mengajarkan saya akan banyak hal. Terutama adalah tentang kesetiaan. Kesetiaan yang hanya patah oleh usia. Kesetiaan tanpa pamrih. Kesetiaan yang hanya dapat terjadi, jika tidak hanya rasa cinta kasih yang mendasari sebuah hubungan melainkan juga bentuk penghormatan, menghargai, pengabdian, dan mendasarkan semua pada kepercayaan.
Berharap sebuah kesetiaan ataupun bersetia pada satu diri mungkin merupakan barang langka sekarang ini. Banyak sekali alasan yang dijadikan pembenaran saat sebuah perselingkuhan atau ketidaksetiaan terjadi. Namun bukan berarti kesetiaan abadi itu tidak ada. Beberapa kisah bertebar di sekitar kita. Salah satunya adalah kisah seorang wanita yang memegang kesetiaannya hingga ruh terpisah dari raganya. Ainun Habibie, wanita berusia 72 tahun, istri dari presiden ketiga Indonesia BJ Habibie. Kisah Ibu Ainun menjadi istimewa bagi saya, karena beliau dengan setianya mendampingi sang suami dalam keadaan apapun dan dimanapun Pak Habibie berada. Di Jerman maupun Indonesia. Kesetiaan dan kebaikan Ibu Ainun yang selalu ada di sisi suaminya membuat beliau pun mendapat perlakuan yang sama dari suami dan anak-anaknya. Pak Habibie tak sesaat pun beranjak dari isi Ibu Ainun. Hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Jerman.
Dua kisah ini benar-benar membuat saya tersadarkan. Kesetiaan tidak dapat diraih dalam waktu sekejap. Kesetiaan adalah sebuah proses panjang sebuah hubungan. Apakah itu hubungan antar manusia pun manusia dengan makhluk lain.
Mungkin saya bukan Hachiko yang begitu setia dengan tuannya atau Ibu Ainun yang memegang teguh kesetiaannya hingga ruh itu terlepas. Saya hanya perempuan yang cukup tahu apa itu mencintai, pengorbanan, dan kesetiaan. Saya perempuan yang tahu menempatkan kesetiaan saya sampai sejauh apa. Saya perempuan yang tahu kepada siapa saya harus setia dan menunggu kehadirannya.
Kesetiaan itu langka tapi ada.

A True Story of Faith, Devotion and Undying Love

Lirik Lagu Ungu – Dirimu Satu

[Intro]

I will always loving you, kekasihku..
Dalam hidupku hanya dirimu satu..
I will always need you, cintaku..
Selamanya takkan pernah terganti..

Chorus :
Kumau menjadi yang terakhir untukmu.
Kumau menjadi mimpi indahmu..

Reff :
Cintai aku dengan hatimu.
Seperti aku mencintaimu..
Sayangi aku dengan kasihmu.
Seperti aku menyayangimu..

I will be the last for you..
And you will be the last for me..

[Intro]

I will always loving you, kekasihku..
Dalam hidupku hanya dirimu satu..

Chorus :
Kumau menjadi yang terakhir untukmu.
Kumau menjadi mimpi indahmu..

Reff :
Cintai aku dengan hatimu.
Seperti aku mencintaimu..
Sayangi aku dengan kasihmu.
Seperti aku menyayangimu..

I will be the last for you..
And you will be the last for me..
I will be the last for you..
You will be the last for me..